Sinopsis Film
Tak Kenal maka Ta’aruf
Zoya, mahasiswi kedokteran. Seorang gadis muda yang memegang teguh kaidah-kaidah agama. Memiliki prinsip kuat tentang konsep pernikahan tanpa pacaran. Prinsip ini didapat dari kedua orang tuanya, selaku pengasuh Pondok Pesantren di Jombang, yaitu KH. Sidiq dan Nyai Hj. Aminah. Zoya memiliki dua kakak yaitu Khalid dan Asma. Keduanya mengalami kegagalan cinta yang sangat traumatis sehingga menjadi faktor Zoya mengidap Philophobia (takut jatuh cinta). Kebalikan dari Zoya, Asma menjadi salah satu wanita yang tergolong Emophilia (mudah jatuh cinta).
Khalid mengalami kegagalan cinta karena mempelai wanita tidak datang di hari pernikahannya. Sedangkan Asma, sebagai seorang yang Emophilia, dia tergoda dengan mahasiswa asing saat berkuliah di luar negeri, namun pacarnya berselingkuh dan meninggalkannya.
Selama perkuliahan, Zoya bertemu dengan Faris, mahasiswa teknologi kelautan, ganteng, tinggi yang merupakan seorang vokalis. Zoya benci pada pandangan pertama kepada Faris. Gadis itu merasa sangat terganggu dengan suara bising motor Faris setiap kali pergi sholat ke masjid kampus. Faris memiliki sahabat bernama Jenglot yang lucu dan bertampang bego. Awalnya Zoya benci, tapi lama-lama menjadi suka pada Faris.
Zoya memiliki dua sahabat, yaitu Fatimah dan Anisa. Fatimah mahasiswi Kedokteran berlogat Medan, tegas dan keras. Fatimah selalu membantu Zoya saat praktikum yang dipandu oleh Dr. Wira, dosen ganteng yang terkesan menyukai Zoya. Sedangkan Anisa adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi yang cantik dan lucu berlogat Sunda.
Cleopatra, mahasiswi metropolis, cantik, enerjik dan agresif. Fans berat Faris. Jatuh cinta dan mengejar Faris. Cleo memiliki sahabat bernama Juwita yang selalu membantu Cleo mengerjakan tugas. Namun karena merasa tersaingi oleh Zoya, Cleo berusaha merubah penampilannya agae Farid lebih menyukainya. Akan tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain dan mengetuk pintu hati Cleo sehingga memutuskan untuk bertobat dengan panduan Ukhti Aisyah. Selanjutnya, Cleo mengajak Faris taaruf.
Salahuddin Al Badar, pemuda tampan dan alim putra pengasuh pondok pesantren besar di Kediri yaitu Mbah Yai Badar. Salahuddin dijodohkan dengan Zoya, dia berusaha semaksimal mungkin untuk memberi perhatian pada Zoya, sampai meyusulnya ke kampus dan membacakan syair-syair romantisnya. Namun sayangnya cara Salahuddin mengutarakan rasa dan perhatiannya ini justru malah memperburuk kondisi Zoya yang Philophobia.
Saat Zoya berada di titik terlemahnya, Fatimah berusaha membantu dengan memperdengarkan suara Faris mengaji untuk sedikit menenangkan Zoya. Suatu ketika Nyai Hj. Aminah meminta Zoya pulang untuk membahas perjodohannya, Zoya malah membawa Faris pulang. Abah Zoya, KH. Sidiq yang awalnya tidak setuju dengan Faris, akhirnya luluh karena Faris bisa adzan, mengaji, khotbah dan menjadi imam shalat.
Bagaimana akhir kisah cinta Zoya?

